Rabu, 06 April 2016

oh tidak...anaku terjangkit demam berdarah

 Oh tidak....anaku terjangkit demam berdarah

 Mungkin ini desahan orang tua pada umumnya saat mengetahui jika si buah hati terjangkit penyakit demam berdarah. Begitu pula kami. Saya sebagai ibu hanya bisa memejamkan mata dan bernafas panjang saat dokter anak memberitahukan keadaan anak pertama kami. Dibandingkan saya,suami lebih tenang. Karena di benak saya anak yang terkena penyakit demam berdarah harus opname di rumah sakit, harus mencari transfusi darah dan lain sebagainya. Ini adalah permsalahan yang kami harus hadapi dan harus kami selesaikan.

Di ruang praktek dengan banyak ornamen anak-anak menghias tiap sudut dinding berwarna putih itu anakku terkulai lemas di tempat tidur ukuran single. Matanya sayu tampak sulit diajak komunikasi,meskipun dekat kepalanya terdapat banyak boneka berbagai karakter tak diperdulikannya. Matakupun mulai gusar, mungkin suami bisa memahami ini. Tiba-tiba kami terhenyak oleh suara dokter anak.
"Mau rawat inap atau rawat jalan?"
"Bisa rawat jalan Dok? Bukannya harus rawat inap?" suara suami menimpali
"Tidak harus,selama si anak makan minum rawat jalan tidak apa-apa."

Keluar dari ruangan itu kami merasa beban terasa sedikit lebih ringan karena dokter tidak mengharuskan rawat inap. Namun,kami tetap harus mengikuti semua syarat yang diajukan oleh dokter yaitu harus mau makan minum dan melakukan tes darah setiap diminta.
 Karena kami telah mengambil keputusan untuk melakukan rawat jalan, maka kami melakukan langkah-langkah seperti:
1. Anak harus bisa makan dan minum.
   Anak wajib makan minum meskipun dengan jumlah yang lebih sedikit. Andaikata anak muntah, tidak mengapa berikan waktu agar mualnya mereda kemudian coba memberikan asupan apapun. Biasanya dokter akan meresepkan obat anti mual.
2. Siapkan catatan dan termometer.
    Setiap 2 jam sekali cek suhu badan anak dan mencatatnya. Catatan ini sangat berguna untuk analisis dokter disaat kami kontrol. Catatan ini tidak hanya berisikan tanggal jam dan suhu badan anak bahkan jika anak mengalami muntah atau diare,kami juga cantumkan didalam catatan tersebut.
3. Laborat terdekat.
    Kami mencari laborat terdekat untuk mengecek jumlah trombosit dalam darah anak. pengecekan dilakukan setiap kali dokter meminta, oleh karena itu kami mencari laborat yang tidak jauh dari rumah agar anak tidak lelah.
4. Jangan panik.
    Biasanya anak terjangkit demam berdarah akan mengalami perubahan kebiasaan cukup banyak. Awalnya periang,senang lari kesana kemari berubah menjadi lemas tanpa daya. Disini peran orang tua sangat kuat sebagai semangat untuk kesembuhan anak. Kami berusaha tidak menampakan wajah sedih lemah bahkan menangis di depan anak. Bagaimana anak akan kuat jika kami tampak lemah,sehingga harapan kami anak pun akan semangat untuk sembuh.
5. Tegas.
    Tegas bukan berarti galak atau suka marah. Karena saat sakit ada kalanya anak akan malas makan, faktor ini yang akan memperburuk kondisi si anak. Maka saat inilah maka orang tua diperlukan ketegasannya. Kami diawali dengan memberikan pengertian agar mau makan demi fisiknya. Bahkan bila diperlukan sekali kami  akan memberikan gambaran jikalau tidak mau makan yaitu rawat inap.

Kami lakukan tiap tahap dengan sabar dan berdoa tentunya. Tak jarang kami harus menggendong anak saat ingin buang air kecil atau ingin buang air besar. Tak jarang pula kami menggendongnya menuju ruang pengambilan darah sampel di laborat dekat rumah. Tiap hari tiap jam tiap menit kami nikmati itu sebagai sarana untuk mensyukuri betapa mahalnya kesehatan.

Setelah sekian hari,anak bisa tersenyum. Kian lama anak bisa duduk, kemudian lepas dari tempat tidur. Akhirnya anak kami bisa kembali beraktifitas seperti sediakala.
Semua proses memang harus kami lakukan dengan sabar,tidak lupa berdoa minta kesembuhan.